Memberi dan Menerima Nasihat

Oleh: Mohammad Ghozali (Anggota Persyada Al Haromain Far’i Sidoarjo) · 20 Oktober 2026
Bagikan:
Memberi dan Menerima Nasihat

Nasihat bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah amanah yang harus disampaikan dengan penuh keikhlasan, kasih sayang, dan tujuan memperbaiki.


         Tak jarang kita melihat orang-orang yang justru marah-marah ketika dinasihati. Tak jarang pula kita melihat orang-orang yang memberikan nasihat dengan marah-marah, sehingga yang dinasihati menjadi berkecil hati dan malu. Padahal nasihat merupakan pilar manusia untuk berbenah dan menjadi individu yang lebih baik lagi.

Nasihat bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah amanah yang harus disampaikan dengan penuh keikhlasan, kasih sayang, dan tujuan memperbaiki. Begitu pula menerima nasihat, bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kerendahan hati dan kesediaan untuk terus belajar.

Rosulullah Sholallohu Alaihi Wassalam menegaskan, agama ini adalah nasihat. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan nasihat dalam membentuk pribadi seorang muslim dan menjaga keharmonisan masyarakat.

اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: ِللهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَِلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ.

“Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Alloh, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum.” (HR. Muslim)

Muhammad bin Abdulloh Al-Jordani Al-Dimyati menjelaskan, nasihat adalah ucapan yang padat dan singkat memberi makna pemberian sesuatu bagi yang dinasihati. Menurut Imam Al-Khottobi, An-Nasihah (النصيحة) berasal dari kata nashaha (نصح) – yanshahu (ينصح) yang artinya memurnikan.

Nasihat Untuk Alloh artinya mengajak manusia agar beribadah dengan ikhlas, tidak menyekutukan-Nya. Untuk Kitab-Nya artinya mengingatkan agar berpegang teguh pada Al-Qur’an. Untuk Rasul-Nya artinya mengikuti sunnah beliau dengan benar. Untuk pemimpin kaum Muslimin artinya menasihati mereka agar adil dan amanah serta mengingatkan apabila mereka salah atau menjerumuskan kepada kemaksiatan. Untuk kaum muslimin secara umum artinya saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.

 

 

Adab dan Etika Memberikan Nasihat

Dalam memberikan nasihat, ada adab yang harus diperhatikan agar nasihat tidak menyinggung, melukai, atau menimbulkan kebencian. Beberapa etika penting dalam memberi nasihat antara lain:

1.      Diniatkan Ikhlas karena Alloh

Nasihat harus diberikan dengan niat tulus untuk memperbaiki, bukan untuk merendahkan atau mencari keuntungan pribadi.

 

2.      Disampaikan dengan lemah lembut

Alloh berfirman kepada Nabi Musa dan Harun ketika menghadapi Fir’aun: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Ṭāhā: 44). Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan untuk lembut, apalagi kepada sesama muslim.

 

3.      Memilih waktu dan tempat yang tepat

Nasihat sebaiknya diberikan secara pribadi, bukan di depan umum, agar tidak menimbulkan rasa malu. Imam Syafi’i berkata: “Barangsiapa menasihati saudaranya secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasihatinya dan memperbaikinya. Barangsiapa menasihati di depan orang banyak, maka ia telah mencelanya dan mempermalukannya.”

 

4.      Menggunakan bahasa yang mudah dipahami

Nasihat harus jelas, sederhana, dan sesuai dengan kondisi orang yang dinasihati. Apabila memberikan nasihat kepada orang awam maka sampaikan dengan bahasa yang mereka mengerti. Apabila memberi nasihat kepada ahli ilmu, gunakan bahasa ilmiah.

 

5.      Disertai teladan nyata

Nasihat akan lebih berpengaruh jika pemberi nasihat juga mengamalkan apa yang ia sampaikan. Alloh berfirman “Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan,” (As-Shoff:3).

 

Sikap Seorang Muslim Ketika Menerima Nasihat

Tidak kalah penting dari memberi nasihat adalah bagaimana seorang muslim menerima nasihat. Banyak orang yang sulit menerima nasihat karena merasa dirinya sudah benar, gengsi, atau takut dianggap lemah. Padahal, menerima nasihat adalah tanda kerendahan hati dan kecintaan terhadap kebenaran. Sikap yang seharusnya dimiliki ketika menerima nasihat antara lain:

1.      Bersyukur atas perhatian orang lain

Nasihat adalah bentuk kasih sayang. Ketika seseorang menasihati kita, itu berarti ia peduli terhadap kebaikan kita. Ali bin Abi Thalib memiliki sebah kata mutiara menarik tentang hal ini. “Jangan menasihati orang bodoh, karena dia akan membencimu. Nasihatilah orang yang berakal, karena dia akan mencintaimu.”  (Ali bin Abi Thalib)

 

2.      Mendengarkan dengan penuh perhatian

Jangan terburu-buru memotong pembicaraan, membela diri, atau menolak sebelum memahami maksud nasihat secara utuh. Mendengarkan dengan baik menunjukkan adab dan penghormatan kepada orang yang berbicara. Bisa jadi cara penyampaiannya kurang sempurna, tetapi pesan yang disampaikan tetap mengandung kebaikan.

 

3.      Tidak tersinggung atau marah

Nasihat sering kali terasa tidak nyaman karena menyentuh kekurangan atau kesalahan diri. Namun, seorang muslim hendaknya mampu mengendalikan emosi dan tidak mudah tersinggung atau marah. Ingatlah bahwa tujuan nasihat bukanlah untuk menjatuhkan harga diri, melainkan untuk memperbaiki dan mengingatkan.

 

4.      Mengambil manfaat meskipun sedikit

Tidak semua nasihat harus diterima secara utuh, karena kondisi, latar belakang, dan situasi setiap orang berbeda. Namun, sikap bijak adalah tetap berusaha mengambil manfaat meskipun hanya sedikit. Bisa jadi satu kalimat atau satu sudut pandang dari nasihat tersebut menjadi bahan muhasabah yang berharga.

 

5.      Berani mengakui kesalahan

Banyak orang menolak nasihat karena enggan mengakui kekeliruan dirinya. Padahal, mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan. Orang yang paling mulia bukanlah yang tidak pernah salah, tetapi yang mau menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

 

Nasihat dan Persaudaraan Sesama Muslim

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Alloh dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Alloh; sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

Ayat ini menegaskan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah saling menasihati dalam kebaikan. Kita kembali kepada adab yang diajarkan Rasululloh Sholallohu Alaihi Wassalam. Nasihat harus disampaikan dengan hikmah, dan penerima nasihat harus membuka hati dengan lapang dada. Dengan demikian, nasihat akan menjadi sarana memperkuat iman, bukan sumber konflik.