Legowo (Rasa Maklum): Rahasia Rumah Tangga yang Langgeng

Di balik setiap nikmat, selalu ada kekurangan. Di balik setiap kebahagiaan, ada ujian yang harus dihadapi. Karena itulah, salah satu akhlak yang sangat penting dimiliki seorang muslim adalah memperbesar rasa maklum atau dalam istilah Jawa dikenal dengan legowo.
Dalam kehidupan, setiap orang tentu mendambakan kebahagiaan. Kita ingin memiliki rumah yang nyaman, pekerjaan yang menyenangkan, rezeki yang lapang, dan keluarga yang harmonis. Namun, kenyataannya kehidupan tidak pernah berjalan sesuai dengan harapan manusia. Di balik setiap nikmat, selalu ada kekurangan. Di balik setiap kebahagiaan, ada ujian yang harus dihadapi. Karena itulah, salah satu akhlak yang sangat penting dimiliki seorang muslim adalah memperbesar rasa maklum atau dalam istilah Jawa dikenal dengan legowo.
Di dunia ini tidak ada kehidupan yang 100% enak terus, nyaman terus, dan senang terus. Sebagus-bagusnya rumah pasti ada bagian yang kurang. Sebagus-bagusnya kendaraan pun pasti memiliki kekurangan. Apalagi pasangan hidup. Setiap pasangan memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Ada sisi yang membuat kita bersyukur memilikinya, tetapi ada pula sisi yang menuntut kita untuk bersabar ketika menjalaninya. Di sinilah letak pentingnya legowo (rasa maklum).
Kunci hidup yang nyaman bukanlah mendapatkan segala sesuatu yang sempurna, melainkan memiliki hati yang lapang untuk menerima kenyataan. Semakin besar legowo seseorang, semakin ringan pula ia menjalani kehidupan.
Sebaliknya, yang membuat semuanya tampak serba salah sering kali bukan karena keadaan yang terlalu buruk, melainkan karena keinginan kita terlalu banyak, ekspektasi terlalu tinggi, sementara rasa maklum kita terlalu kecil.
Begitu kenyataan tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan, kita langsung kecewa, marah, emosi, bahkan berujung pada frustrasi. Padahal, tidak semua yang mengecewakan kita lahir dari kesengajaan orang lain. Belajarlah memaklumi orang lain selama hal tersebut bukan dilakukan dengan sengaja dan bukan merupakan niat buruk mereka.
Kalau seorang istri memasak terlalu asin atau rumah tidak terlalu bersih dan rapi, maka legowo, maklumilah. Itu bukan niatnya. Bisa jadi ia sedang lelah karena mengurus rumah, anak-anak, dan berbagai pekerjaan yang tidak pernah berhenti sejak pagi hingga malam.
Kalau seorang suami belum mampu memberikan nafkah sesuai harapan, padahal ia telah berusaha keras dan mencoba berbagai cara yang halal, maklumilah. Kekurangan itu bukan keinginannya. Tidak ada seorang suami yang ingin dipandang gagal oleh keluarganya.
Kalau anak belum berhasil dalam suatu bidang, pulang membawa nilai yang kurang memuaskan, atau belum memiliki kemampuan seperti teman-temannya, maklumilah. Itu juga bukan harapannya. Setiap anak memiliki proses tumbuh dan belajar yang berbeda.
Begitu pula ketika seseorang yang berutang kepada kita terlambat membayar. Selama memang ia sedang mengalami kesulitan dan bukan berniat mengingkari janjinya, maka berlapang dadalah. Islam bahkan menganjurkan memberi kelonggaran kepada orang yang benar-benar berada dalam kesempitan.
Maka sebelum kecewa terhadap kehidupan atau terhadap orang lain, cobalah bertanya kepada diri sendiri. Apakah semua ini memang dilakukan dengan sengaja? Ataukah semua ini merupakan takdir Alloh yang berada di luar kendali manusia? Kalau jawabannya adalah yang kedua, maka legowo menjadi pilihan terbaik.
Seorang muslim memahami bahwa tidak semua hal berada dalam kuasa manusia. Ada banyak keadaan yang telah Alloh tetapkan sebagai ujian kehidupan. Karena itu, memaklumi bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan menerima bahwa manusia memiliki keterbatasan dan tidak selalu mampu memenuhi harapan orang lain.
Maklum juga merupakan bentuk keridhoan terhadap takdir Alloh. Jangan sampai kita berharap dimaklumi dan diampuni ketika berbuat salah kepada Alloh, tetapi ketika Alloh menakdirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, justru kita menolak, mengeluh, dan tidak ridho terhadap ketetapan-Nya.
Sikap seperti ini perlu terus dilatih, terlebih dalam kehidupan rumah tangga. Tidak ada pernikahan yang langgeng tanpa adanya legowo (rasa maklum).
Setiap pasangan yang hari ini terlihat harmonis sesungguhnya telah melalui berbagai ujian yang mungkin tidak diketahui orang lain. Keharmonisan yang tampak bukan berarti mereka tidak pernah berselisih, kecewa, atau terluka.
Sebaliknya, rumah tangga yang bertahan belasan bahkan puluhan tahun biasanya dibangun di atas hati yang lapang. Di dalamnya ada suami yang berusaha memahami kelemahan istrinya. Ada istri yang memilih bersabar atas kekurangan suaminya. Ada pasangan yang tidak pernah berhenti memperbaiki keadaan meskipun berkali-kali diuji. Bahkan, tidak sedikit yang harus berjuang keras melupakan kesalahan besar pasangannya demi mempertahankan keutuhan keluarga.
Mereka terbiasa menarik napas panjang agar pertengkaran tidak terjadi hanya karena persoalan kecil. Mereka bersabar dalam waktu yang sangat lama. Mereka terus belajar memberi maaf, bahkan ketika kesalahan yang sama kembali terulang. Karena itu, pernikahan yang bertahan lama bukanlah pernikahan yang paling besar cintanya, melainkan pernikahan yang paling besar rasa maklumnya.
Jangan mengira pasangan yang mampu mempertahankan rumah tangga selama puluhan tahun adalah orang-orang yang kehidupannya selalu tenang, tanpa air mata, tanpa konflik, dan tanpa drama. Tidak. Mereka tetap menghadapi ujian sebagaimana pasangan lainnya.
Yang membedakan hanyalah mereka memilih untuk lebih banyak mengingat kebaikan pasangannya daripada terus menghitung kesalahannya. Mereka memilih memperbaiki daripada menghakimi. Mereka memilih memaafkan daripada terus menyimpan dendam.
Alloh Ta’ala. berfirman,
وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Q.S. Asy-Syura: 40)
Maka, siapa pun pasangan kita hari ini, jika kita ingin mempertahankan rumah tangga hingga akhir hayat, siapkanlah rasa legowo. Bukan karena dibutakan oleh cinta. Bukan pula karena membiarkan kezaliman terus terjadi. Melainkan karena ingin berusaha sebaik-baiknya menjadi seorang muslim yang bertakwa, yang tidak mudah mengambil keputusan untuk berpisah tanpa terlebih dahulu menempuh ikhtiar terbaik, memperbanyak syukur, memperluas kesabaran, serta membesarkan rasa maklum dalam setiap langkah kehidupan rumah tangga.
Sebab, rumah tangga yang kokoh bukanlah rumah tangga yang dipenuhi dua manusia sempurna, melainkan rumah tangga yang dihuni oleh dua insan yang sama-sama belajar saling memahami, saling memaafkan, dan bersama-sama berharap ridha Alloh Ta’ala.[]