Jangan Biarkan Hatimu Jauh dari Masjid

Ada satu keadaan yang perlu kita waspadai, ketika hati mulai nyaman jauh dari masjid. Awalnya mungkin hanya sekali tidak berjamaah. Kemudian menjadi kebiasaan. Adzan terdengar, tetapi pekerjaan terasa lebih penting. Waktu sholat tiba, tetapi tangan justru sibuk menggulir layar ponsel. Masjid masih berdiri tidak jauh dari rumah, tetapi langkah terasa berat untuk mendatanginya.
Yang menjauh bukan masjidnya. Ia tetap berdiri megah di sana, namun kitalah yang perlahan menjauh jauh darinya. Padahal, ia adalah tempat seorang hamba menghadap Penciptanya. Di sanalah dahi menyentuh tanah, kesombongan diruntuhkan, dan hati diingatkan bahwa sebesar apa pun urusan dunia, kita tetaplah seorang hamba.
Yang menjauh bukan masjidnya. Ia tetap berdiri megah di sana, namun kitalah yang perlahan menjauh jauh darinya. Padahal, ia adalah tempat seorang hamba menghadap Penciptanya. Di sanalah dahi menyentuh tanah, kesombongan diruntuhkan, dan hati diingatkan bahwa sebesar apa pun urusan dunia, kita tetaplah seorang hamba.
Alloh Subhanahuwata’ala berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Alloh. Maka janganlah kamu menyembah siapa pun di dalamnya di samping menyembah Alloh.” (QS. Al-Jinn: 18)
Ketika Adzan Tak Lagi Menggetarkan Hati
Salah satu tanda yang perlu kita renungkan adalah ketika adzan tidak lagi menggerakkan hati. Dulu, suara Adzan mungkin membuat kita segera beranjak mengambil wudhu. Sekarang, adzan hanya menjadi suara latar di tengah kesibukan. Dulu kita merasa ada yang kurang jika belum sholat berjamaah. Sekarang, menunda salat terasa biasa.
Bukan berarti setiap orang yang sesekali tidak ke masjid telah kehilangan imannya. Kita memiliki pekerjaan, keluarga, perjalanan, sakit, dan berbagai uzur. Tetapi yang harus kita khawatirkan adalah ketika jauh dari masjid tidak lagi membuat hati merasa kehilangan. Sebab hati manusia bisa terbiasa dengan apa pun. Terbiasa menunda salat. Terbiasa meninggalkan jamaah. Terbiasa tidak membaca Al-Qur'an. Terbiasa jauh dari majelis ilmu. Sampai akhirnya hati tidak lagi merasa bahwa semua itu adalah sebuah kehilangan.
Padahal, Rosul memberikan gambaran yang begitu indah tentang orang yang hatinya dekat dengan masjid. Beliau bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Alloh pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Alloh, seseorang yang hatinya tertaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Alloh; mereka berkumpul dan berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh perempuan yang punya kedudukan lagi cantik lalu dia mengatakan: 'Aku takut kepada Alloh', seseorang yang memberi sedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Alloh dalam kesendirian lalu mengucur air matanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Masjid adalah Tempat Hati Beristirahat
Kita sering mencari ketenangan ke berbagai tempat. Ketika stres, kita mencari hiburan. Ketika jenuh, kita pergi jalan-jalan. Ketika pikiran penuh, kita membuka media sosial. Semua itu mungkin memberi jeda, tetapi tidak selalu menyembuhkan hati.
Al-Qur'an memberikan resep yang lebih dalam:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28)
Masjid adalah salah satu tempat terbaik untuk menghidupkan dzikir kepada Alloh. Di sana kita berdiri dalam salat, membaca ayat-ayat-Nya, mendengarkan nasihat, bersujud, dan berdoa. Tidak semua masalah akan selesai setelah kita keluar dari masjid, tetapi hati yang tadinya kacau bisa menjadi lebih kuat untuk menghadapi masalah.
Kadang-kadang kita tidak membutuhkan jawaban panjang. Kita hanya membutuhkan beberapa menit untuk bersujud dan mengatakan, “Ya Alloh, aku lelah. Berilah aku pertolongan Ya Alloh.”
Jangan menunggu hati bersih untuk datang ke Masjid. Ada kesalahan berpikir yang sering muncul, “Saya belum baik, jadi malu ke masjid.” Padahal, Masjid adalah tempat orang belajar menjadi lebih baik. Jangan menunggu menjadi alim untuk datang ke masjid. Jangan menunggu dosa hilang untuk bersujud. Jangan menunggu hati tenang untuk mengingat Alloh. Datanglah kepada Alloh dengan segala kekurangan kita. Alloh Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Alloh. Sesungguhnya Alloh mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. Az-Zumar: 53)
Masjid bukan museum bagi orang-orang yang sudah suci. Masjid adalah tempat manusia belajar mendekat kepada Yang Maha Suci.
Menautkan Hati Mulai Hari Ini
Bayangkan jika suatu hari Adzan berkumandang, tetapi kita tidak lagi punya kesempatan untuk menjawabnya. Bayangkan jika suatu hari kita ingin bersujud di masjid, tetapi tubuh sudah tidak mampu melangkah. Bayangkan jika kesempatan untuk sholat berjamaah hari ini ternyata menjadi kesempatan terakhir yang Alloh berikan.
Kematian tidak pernah menunggu kita selesai dengan pekerjaan. Ia tidak menunggu kita kaya. Ia tidak menunggu anak-anak besar. Ia tidak menunggu semua masalah selesai. Karena itu, jangan terlalu yakin bahwa kita masih memiliki waktu.
Rosululloh bersabda, “Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, dicatat baginya pahala seperti amal yang biasa ia kerjakan ketika sehat dan mukim.”(HR. Bukhari)
Hadist ini mengingatkan kita bahwa kebiasaan baik sangat berharga. Amal kebaikan yang biasa kita lakukan akan tetap dihitung meskipun kita sakit atau berpergian. Maka, bangunlah kebiasaan untuk mencintai masjid sebelum datang masa ketika kita tidak lagi mampu mendatanginya. Tidak perlu menunggu Romadhon. Tidak perlu menunggu usia tua. Tidak perlu menunggu hati menjadi sempurna.
Mulailah dari satu langkah. Ketika Adzan terdengar, jawab panggilannya. Ambil wudhu. Tinggalkan sejenak pekerjaan. Berjalanlah menuju masjid. Jika sudah terbiasa, pertahankan. Jika selama ini jarang, mulailah perlahan. Jika pernah jauh, pulanglah. Masjid adalah tempat hati belajar untuk pulang kepada Alloh.