Hustle Culture: Apa yang Kita Cari Dari Kerja Kita?

Afri Andiarto (Founder Robwah Foundation) · 19 Oktober 2026
Bagikan:
Hustle Culture: Apa yang Kita Cari Dari Kerja Kita?

Menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga kini menjadi tantangan besar. Demi memberikan yang terbaik, suami dan istri sering kali bekerja keras bersama untuk menopang ekonomi keluarga. Namun, hadirnya fenomena hustle culture—budaya yang memuja produktivitas tanpa batas—justru mengancam keharmonisan.

Menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab rumah tangga kini menjadi tantangan besar. Demi memberikan yang terbaik, suami dan istri sering kali bekerja keras bersama untuk menopang ekonomi keluarga. Namun, hadirnya fenomena hustle culture—budaya yang memuja produktivitas tanpa batas—justru mengancam keharmonisan. Akibatnya, pekerjaan yang semula ditujukan untuk membangun kehidupan, perlahan justru merenggut kebahagiaan rumah tangga.

Hustle Culture Menyita Kehidupan

Suatu hari Sayyidina Salman Al Farisi mendatangi rumah Abu Darda’ rodliyyAllohu ‘anhu, seorang sahabat Anshor yang menjadi saudaranya pasca hijrah ke Madinah. Setibanya di rumah Abu Darda’, Salman melihat Ummu Darda’ mengenakan pakaian yang kusut, maka Salman bertanya,”apa yang terjadi denganmu wahai Ummu Darda’?”

Ummu Darda’ menjawab,”Saudaramu tak lagi memerlukan dunia” Lalu datanglah Abu Darda’ dan menyuguhkan makanan untuk Salman, sedangkan Abu Darda’ sendiri sedang berpuasa. Salman berkata,”aku tak memakannya hingga engkaupun memakannya” Maka Abu Darda’ pun makan bersama untuk menghormati saudaranya tersebut.

Malam pun datang dan kian gelap, tampak Abu Darda’ bangun bermaksud melaksanakan tahajjud, namun Salman mengingatkan,”Wahai Abu Darda’, tidurlah terlebih dahulu!” Maka Abu Darda’ pun menuruti saudaranya tersebut.

Tidak lama setelah itu, Abu Darda’ kembali bangun dan kembali hendak melaksanakan sholat, namun sekali lagi Salman mencegahnya dan memintanya beristirahat. Ketika malam hampir berakhir, Salman membangunkan Abu Darda’ dan mengajaknya melaksanakan sholat Bersama, lalu beliau menyampaikan sebuah nasehat kepada Abu Darda’,”Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”

Setelah kejadian tersebut Abu Darda’ menyampaikan hal tersebut kepada Rosululloh dan beliaupun menjawab,”benarlah apa yang dikatakan Salman.” Riwayat ini disebutkan oleh Imam Al Bukhari dalam Shahihnya.

Jika dalam riwayat tersebut mengungkapkan bagaimana Abu Darda’ yang mencurahkan perhatian untuk melaksanakan ibadah hingga tidak tertunaikannya beberapa hal lain dalam kehidupan beliau, maka di masa kini kita menjumpai gaya hidup yang menekankan kerja keras tanpa henti dan ambisi untuk terus “naik level” dalam karier atau keuangan hingga terabaikannya beberapa hal lain dalam kehidupan.

Hal tersebut kini menjadi sebuah fenomena yang marak terjadi khususnya di kota besar yang dikenal dengan istilah hustle culture, dalam budaya kerja ini seseorang menuntut dirinya untuk terus bekerja hingga sering kali melewati batas waktu normal, dengan keyakinan bahwa kesuksesan hanya dapat dicapai melalui kerja keras ekstrem, bahkan dalam budaya ini, istirahat dan waktu pribadi sering dianggap sebagai bentuk kemalasan. Berbagai faktor menjadi latar belakang fenomena tersebut, mulai

dari tekanan ekonomi untuk mencapai kestabilan, peran media sosial yang memicu perbandingan sosial (FOMO), hingga glorifikasi kerja keras di masyarakat yang menyamakan jam kerja panjang dengan kesuksesan.

Dari Hustle Culture Menjadi Burnout

Laporan Global Talent Trends 2024 yang diterbitkan oleh Mercer, firma konsultasi SDM, Amerika Serikat, mengungkapkan hasil penelitian 12.200 lebih responden dari berbagai Perusahaan. Lebih dari delapan dari 10 karyawan (82%) berisiko mengalami burnout yang disebabkan tekanan finansial, kelelahan, dan beban kerja berlebihan atau hustle culture.

Uniknya fenomena ini terjadi bukan disebabkan eksploitasi secara paksa dari pihak perusahaan atau lingkungan kerja akan tetapi dilakukan secara sukarela oleh pekerja itu sendiri atau disebut sebagai self exploitation, ungkap Byung-Chul Han, guru besar Universitat der Kunste Berlin (UdK) Berlin, Jerman dalam bukunya Burnout Society.

Burnout memberikan dampak negatif yang luas dan serius di berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan mental, fisik, kinerja pekerjaan, hingga hubungan sosial. Kondisi burnout jutsru mengakibatkan seseorang terkuras secara emosional, berpikiran negatif, dan merasa asing (berjarak) dengan pekerjaannya. Kondisi ini menyebabkan penurunan kinerja, terhambatnya kreativitas dan inovasi, kecelakaan di tempat kerja, ketidakhadiran (mangkir), serta penyakit fisik dan mental.

Keseimbangan hidup adalah sebuah kebutuhan yang harus ditunaikan. Selain itu, kita juga perlu menilik kembali makna profesionalisme. Seringkali kita hanya menghadirkan kata “profesional” saat di ruang kerja dan bisnis kita, namun meninggalkannya saat kita berada di ruang ibadah dan keluarga kita, sdi sinilah awal ketidakseimbangan bermula.

Kita perlu mencermati nasehat Salman Al Farisi di atas bahwa profesionalisme seharusnya hadir saat kita beribadah, saat kita bersama keluarga, juga di saat kita mengambil jeda sejenak dari hiruk pikuk keseharian. Rosulullah shollAllohu ‘alaihi wasallam menyatakan,

إِنّ ا هللََّ تَ.عَالى حيِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدحكحمْ عَمَلًا أَنْ ي.حتْقِنَهح )رواه الطبرني(

“Sesungguhnya Alloh mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (professional)”. (HR. Atthabrani).

Islam menekankan setiap individu untuk memiliki etos kerja yang baik bahkan memberikan apresiasi bagi para kepala keluarga yang bekerja keras mengupayakan rezeki halal bagi keluarganya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,

Sesungguhnya di antara dosa-dosa, ada dosa yang tidak dapat dihapus (ditebus) oleh salat, puasa, haji, maupun umrah." Para sahabat bertanya: "Lalu apa yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Keresahan (rasa lelah) dalam mencari nafkah. (HR. Atthabrani dan Addailami)

Bekerja Karena Alloh

Setiap muslim harus memahami konsep bekerja yang benar agar porsi kehidupannya tetap seimbang. Bagi seorang muslim bekerja adalah bentuk ibadah kepada Alloh subhanahu wata’ala bukan semata untuk mengejar kekayaan di dunia. Kita dapat mencermati hal tersebut dalam firman Alloh subhanahu wata’ala berikut,

وَابْ.تَغِ فِيْمَآ ٰاٰتىكَ اٰلّلحَّ ال هدارَ اْٰلخِْرَةَ وَلَْ تَ.نْسَ نَصِيْ.بَكَ مِنَ الدُّنْ.يَا

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Alloh kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. (QS. Al Qashash:77)

Al Jalalain di dalam Tafsir Al Quranul ‘Adzim menjelaskan maksud ayat tersebut bahwa Alloh subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk mengupayakan harta benda dan kebahagiaan di dunia sebagai wasilah untuk menjalankan ketaatan kepada Alloh dalam mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Ttidak sepatutnya pekerjaan merusak keseimbangan dan memberikan dampak buruk pada termasuk rumah tangga kita.

Jadi, selama ini apa yang kita cari dari kerja kita?