Guru Tak Tergantikan Teknologi dalam Perspektif Adab Menuntut Ilmu

Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Dahulu, murid memperoleh ilmu terutama melalui pertemuan langsung dengan guru, membaca buku, dan berdiskusi di ruang kelas. Kini, kemajuan teknologi memungkinkan seseorang memperoleh ilmu dengan sangat mudah. Dengan menggunakan telepon pintar atau komputer, seseorang dapat membaca buku digital, menonton video pembelajaran, mengikuti kelas daring, berdiskusi dengan orang lain, bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memperoleh penjelasan tentang berbagai hal.
Perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam dunia pendidikan. Dahulu, murid memperoleh ilmu terutama melalui pertemuan langsung dengan guru, membaca buku, dan berdiskusi di ruang kelas. Kini, kemajuan teknologi memungkinkan seseorang memperoleh ilmu dengan sangat mudah. Dengan menggunakan telepon pintar atau komputer, seseorang dapat membaca buku digital, menonton video pembelajaran, mengikuti kelas daring, berdiskusi dengan orang lain, bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk memperoleh penjelasan tentang berbagai hal.
Namun, terdapat tantangan yang perlu diperhatikan. Kemudahan mendapatkan informasi terkadang membuat peserta didik menginginkan hasil yang serba cepat. Mereka dapat terbiasa mencari jawaban tanpa memahami prosesnya. Bahkan, penggunaan kecerdasan buatan dapat membuat peserta didik menyelesaikan tugas tanpa benar-benar belajar. Dalam kondisi seperti ini, guru memiliki peran yang sangat penting. Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajarkan adab dalam mencari ilmu.
Teknologi sebagai Sarana, Bukan Pengganti Guru
Teknologi dapat dipandang sebagai sarana (wasilah) untuk memperoleh ilmu. Menggunakan teknologi untuk belajar pada dasarnya merupakan bagian dari ikhtiar manusia dalam mencari pengetahuan. Namun, teknologi tetap merupakan alat. Ia tidak memiliki peran manusiawi seperti seorang guru.
Teknologi dapat memberikan jawaban, tetapi guru dapat mengajarkan cara berpikir. Teknologi dapat memberikan informasi, tetapi guru dapat membantu murid memahami nilai dan hikmah dari informasi tersebut. Teknologi dapat memberikan latihan soal, tetapi guru dapat memahami ketika murid sedang mengalami kesulitan.
Teknologi dapat memberikan materi agama, tetapi guru dapat memberikan keteladanan dalam mengamalkan agama. Dalam Islam, keteladanan merupakan bagian penting dari pendidikan. Seorang guru bukan hanya mengajarkan teori, tetapi juga menunjukkan bagaimana ilmu diterapkan dalam kehidupan. Karena itu, keberadaan guru tetap sangat penting meskipun teknologi berkembang semakin canggih.
Adab kepada Guru dalam Menuntut Ilmu
Salah satu bagian penting dalam pendidikan Islam adalah adab kepada guru. Guru memiliki kedudukan yang mulia karena menjadi perantara seseorang memperoleh ilmu. Oleh karena itu, murid perlu menunjukkan sikap hormat, sopan, mendengarkan ketika guru berbicara, bertanya dengan santun, serta menghargai usaha guru dalam mendidik.
Hal ini menjadi semakin penting di era digital. Ketika murid dapat memperoleh informasi secara langsung dari internet, bukan berarti guru menjadi tidak penting. Justru guru memiliki peran untuk membantu murid memahami informasi tersebut secara kritis dan menghubungkannya dengan nilai-nilai kehidupan. Hubungan guru dan murid tidak sekadar hubungan antara penyampai informasi dan penerima informasi. Di dalamnya terdapat proses tarbiyah, yaitu proses membimbing, membentuk karakter, dan mengembangkan potensi manusia. Guru berperan membantu murid mengubah informasi menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahaman menjadi perilaku yang baik. Inilah salah satu alasan mengapa guru tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
Dampak Teknologi terhadap Adab Belajar
Teknologi dapat memberikan dampak positif terhadap adab menuntut ilmu apabila digunakan dengan benar. Murid dapat menjadi lebih mandiri, memiliki rasa ingin tahu, rajin membaca, dan memiliki kesempatan belajar lebih luas. Namun, teknologi juga dapat memberikan dampak negatif. Misalnya, murid menjadi kurang sabar, mudah mencari jawaban instan, kurang menghargai proses, serta mengurangi interaksi dengan guru dan teman.
Penggunaan kecerdasan buatan juga perlu mendapat perhatian. AI dapat membantu murid memahami materi, tetapi tidak seharusnya digunakan untuk menggantikan usaha belajar. Jika seorang murid hanya menyalin jawaban dari AI tanpa memahami isinya, maka tujuan menuntut ilmu tidak tercapai. Dalam Islam, proses mencari ilmu memiliki nilai tersendiri. Kesungguhan, kesabaran, ketekunan, dan kejujuran dalam belajar merupakan bagian dari adab.
Pemanfaatan Teknologi Secara Bijak
Menghadapi perkembangan teknologi, pendidikan tidak perlu menolak teknologi. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan secara bijaksana dan dipadukan dengan nilai-nilai Islam.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Pertama, luruskan niat. Murid perlu diajarkan bahwa belajar bukan semata-mata untuk mendapatkan nilai, tetapi untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan menjadi manusia yang lebih baik. Kedua, gunakan teknologi sebagai alat bantu. Internet, video pembelajaran, aplikasi, dan AI dapat digunakan untuk membantu proses belajar. Namun, murid tetap harus berpikir, membaca, berdiskusi, dan berusaha memahami materi.
Ketiga, tetap menghormati guru. Kemudahan teknologi tidak boleh menghilangkan adab kepada guru. Guru tetap menjadi pembimbing yang membantu murid memahami ilmu dan menerapkannya dalam kehidupan. Keempat, membangun budaya tabayyun. Murid perlu diajarkan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Alloh Subhanallaahu Ta’aala berfirman: “Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...”(QS. Al-Hujurat: 6).
Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan digital saat ini. Murid harus memiliki kemampuan untuk memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan tidak mudah menyebarkan berita yang belum terbukti kebenarannya. Kelima, mengutamakan keteladanan. Guru dan orang tua harus memberikan contoh dalam menggunakan teknologi. Anak akan belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan alami.
Guru sebagai Murobbi di Era Digital
Guru di era digital tidak cukup hanya menjadi penyampai materi. Guru perlu menjadi murabbi, yaitu pendidik yang membimbing perkembangan ilmu, akhlak, dan karakter murid. Guru membantu anak memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang kemampuan menggunakan teknologi untuk kebaikan. Guru mengajarkan anak untuk bertanya, berpikir kritis, bekerja sama, menghargai orang lain, jujur dalam mengerjakan tugas, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan di dunia digital. Dengan demikian, semakin maju teknologi, semakin penting pula kehadiran guru sebagai pembimbing manusia.
Pendidikan tidak hanya membutuhkan informasi, namun membutuhkan nilai, akhlak, keteladanan, empati, dan hubungan manusiawi. Dalam perspektif Islam, menuntut ilmu harus dilakukan dengan adab. Ilmu harus dicari dengan niat yang baik, melalui sumber yang benar, dengan menghormati guru, menghargai proses, serta mengamalkannya dalam kehidupan. Sebab, tujuan akhir pendidikan bukan hanya menjadikan anak cerdas, tetapi menjadikan mereka berilmu, beradab, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.
“Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tetap membutuhkan hati seorang guru.”Walloohu A’lam