Fatimah Al-Fihri, Perempuan Muslim Pendiri Universitas Tertua di Dunia

Noven Lukito H.S. (Founder Penulis Muda Al Haromain) · 12 Oktober 2026
Bagikan:
Fatimah Al-Fihri, Perempuan Muslim Pendiri Universitas Tertua di Dunia

 

Ketika kita berbicara tentang lembaga pendidikan tertua di dunia, kebanyakan orang langsung terbayang Oxford, Bologna, atau Harvard. Namun jauh sebelum kampus-kampus itu berdiri, seorang perempuan Muslim dari Afrika Utara sudah lebih dahulu membangun sebuah pusat keilmuan yang tidak hanya bertahan hingga hari ini, tetapi juga menjadi simbol kejayaan intelektual Islam. Namanya Fatimah Al-Fihri, seorang muslimah visioner yang mewakafkan hampir seluruh harta warisan keluarganya demi mendirikan Masjid dan Universitas Al-Qorowiyyin di Fes, Maroko.

Kisahnya menyatukan keberanian, keikhlasan, dan mimpi besar tentang lahirnya generasi berilmu. Dan hingga lebih dari 1.100 tahun setelah ia tiada, warisannya masih terus mengalir, menjadi cahaya bagi jutaan penuntut ilmu.


Dialah Fatimah Al-Fihri yang lahir sekitar tahun 800 M di Qorawiyyin, Tunisia, sebuah kota penting dalam sejarah peradaban Islam. Tunisia menjadi gerbang utama penyebaran Islam di Afrika Utara dan Eropa. Letaknya yang strategis di Laut Tengah menjadikannya basis perdagangan, militer, dan ekspansi maritim, termasuk penaklukan Pulau Sisilia dari Kekaisaran Bizantium oleh pasukan Muslim (Dinasti Aghlabiyyah dari Afrika Utara). Transformasi budaya setelah masuknya Islam menjadikan Tunisia pusat intelektual dan politik yang menghubungkan dunia Islam dengan Eropa dan wilayah Afrika.


Lahir Dari Keluarga yang Dermawan

Kedermawanan senantiasa mendatangkan kemudahan dan keberkahan bagi mereka yang melestarikannya. Ini juga berlaku pada keluarga Fatimah Al Fihri. Keluarganya adalah keluarga pedagang sukses yang dikenal sebagai muslim yang taat dan dermawan. Kebiasaan baik ini membentuk Fatimah Al Fihri sebagai pribadi yang tidak egois dan membumi ke masyarakat.

Namun kondisi politik di Tunisia saat itu tidak stabil. Konflik dan pemberontakan membuat banyak keluarga merasa tidak aman, termasuk keluarga Al-Fihri. Akhirnya mereka memutuskan untuk hijrah ke Fes, sebuah kota yang sedang berkembang pesat di bawah kepemimpinan Dinasti Idrisiyah. Sekitar dua ribu keluarga Qorowiyyin pindah ke Fes pada masa itu, menjadikan kota tersebut penuh dengan semangat baru, budaya baru, dan peluang baru.

Setibanya di Fes, keluarga Al-Fihri kembali membangun usaha dan menjadi salah satu keluarga kaya yang dihormati. Meski bergelimang harta, mereka tetap memegang teguh nilai keagamaan. Ayah Fatimah, Muhammad Al-Fihri, dikenal suka membantu fakir miskin dan mendanai kegiatan sosial. Nilai-nilai itulah yang kemudian membentuk karakter Fatimah: sederhana, berpikiran jauh ke depan, dan selalu ingin memberikan manfaat bagi umat.

Ketika ayahnya wafat, Fatimah dan adiknya Mariam mewarisi kekayaan yang tidak sedikit. Bagi sebagian orang, warisan sebesar itu bisa menjadi tiket menuju kehidupan mewah. Namun bagi Fatimah, harta bukanlah tujuan hidup. Ia melihatnya sebagai alat untuk berbuat kebaikan yang berumur panjang, kebaikan yang tidak akan berhenti meski ia sendiri telah tiada.

Keputusan Fatimah untuk mewakafkan hartanya lahir dari keyakinan akan pentingnya amal jariyah, seperti yang diajarkan dalam Islam. Ia melihat bagaimana umat membutuhkan ruang belajar, tempat berkumpulnya para pencari ilmu, dan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat. Dari sinilah gagasan membangun Al-Qorowiyyin mulai tumbuh dalam hatinya.

 

Al-Qorowiyyin, Dari Masjid Sederhana Menjadi Universitas Dunia

Pada tahun 859 M, Fatimah memulai salah satu proyek terbesar dalam sejarah pendidikan dunia, yaitu pembangunan Masjid Al-Qorowiyyin, dinamakan seperti nama kampung halamannya. Ia membeli sebidang tanah yang sangat luas di pusat Kota Fes dan meniatkannya seluruhnya sebagai wakaf.

Pembangunan masjid ini tidak dilakukan dengan serampangan. Fatimah memastikan, seluruh biaya berasal dari hartanya sendiri, material pembangunan diambil langsung dari lokasi, tidak ada sumber lain yang bisa menimbulkan keraguan terkait kehalalan harta dan ia berpuasa setiap hari selama proses pembangunan sebagai bentuk ibadah dan dedikasi penuh pada proyek tersebut.

Masjid Al-Qorowiyyin kemudian berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia menjadi pusat belajar, tempat berkumpulnya para ulama, ahli fikih, ahli bahasa, ilmuwan, dan para pencari ilmu dari berbagai penjuru dunia.

Dalam waktu singkat, pusat pembelajaran ini berubah menjadi madrasah besar yang mengajarkan beragam disiplin ilmu, dari hukum Islam, matematika, astronomi, filsafat, hingga ilmu bahasa. Seiring berkembangnya tradisi akademik di dalamnya, Al-Qorowiyyin pun dikenal sebagai universitas dan saat ini dianggap sebagai salah satu yang tertua di dunia.

Para tokoh besar pernah menuntut ilmu atau berdiskusi di sini. Ibnu Kholdun, sejarawan dan bapak ilmu sosiologi, pernah mengajar di Al-Qorowiyyin. Maimonides (Ibnu Maimun), filsuf Yahudi terkenal, juga pernah menimba ilmu di sini. Selain itu, perpustakaannya menyimpan ratusan manuskrip penting, termasuk naskah kuno fikih mazhab Maliki yang sangat berharga.

Sementara itu, saudarinya, Mariam Al-Fihri, juga dikisahkan mendirikan Masjid Al-Andalusiyyin di wilayah lain di Fes. Meskipun beberapa sejarawan modern memperdebatkan sebagian detail kisah ini, masyarakat luas tetap memandang Fatimah sebagai tokoh sentral yang melahirkan pusat ilmu besar dunia Islam.

Yang luar biasa, semua ini berawal dari seorang perempuan muda yang memiliki visi besar, keberanian, dan ketulusan untuk membangun peradaban melalui ilmu.

 

Warisan Abadi untuk Generasi Sepanjang Masa

Warisan Fatimah Al-Fihri bukan hanya bangunan masjid atau kampus tua. Lebih dari itu, ia meninggalkan makna hidup yang dapat dijadikan pelajaran hingga kini.

Pertama, Fatimah mengajarkan, harta adalah sarana, bukan tujuan. Dengan mewakafkan kekayaannya untuk membangun tempat belajar, ia menegaskan bahwa nilai sejati kekayaan terletak pada manfaatnya untuk banyak orang.

Kedua, ia menunjukkan pentingnya visi jangka panjang. Fatimah tidak hanya berpikir untuk generasinya sendiri, tetapi untuk ratusan generasi setelahnya. Ia tahu bahwa ilmu adalah pondasi peradaban. Dengan membangun tempat belajar, ia sedang membangun masa depan umat.

Ketiga, Fatimah menghidupkan konsep amal jariyah dalam bentuk yang nyata. Hingga hari ini, setiap orang yang membaca buku di perpustakaan Al-Qorowiyyin, setiap mahasiswa yang belajar di kampus itu, setiap ulama yang lahir dari tradisinya. InsyaAlloh, semua menghasilkan pahala yang terus mengalir kepadanya.

Fatimah Al-Fihri adalah pengingat bahwa perempuan memiliki peran besar dalam membangun peradaban. Ia melampaui batas-batas sosial zamannya dan membuktikan bahwa keberanian dan ketulusan hati mampu mencetak sejarah yang bertahan ribuan tahun. Hingga kini, namanya tetap harum disebut oleh jutaan orang di seluruh dunia. Ia adalah simbol kecintaan pada ilmu, kedermawanan, dan visi yang melampaui zaman.

 

Sumber:
1.
https://en.wikipedia.org/wiki/Tunisia

2. https://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Al-Qarawiyyin

3. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7814831/kisah-kampus-tertua-di-dunia-berawal-dari-masjid-hingga-jadi-pusat-pendidikan

4. Zanna. 2020. Masjid Al Qorowiyyin di Masa Alawiyyin Maroko, UINSUKA(Skripsi)

5. https://rubin.id/artikel/fatimah-al-fihri-muslimah-pendiri-universitas-pertama.html